Search This Blog

Loading...

Friday, June 24, 2011

Peran Saudara Kandung

PERAN SAUDARA SEKANDUNG PADA ANAK PENYANDANG ASD


Abstrak

Topik ini membahas tentang pentingnya peran Saudara Sekandung dalam proses meningkatkan kemampuan anak penyandang autis dalam halbersosialisasi dan berinter-aksi dengan orang lain di luar anggota keluarga.

Mengapa saudara sekandung ? dilihat dari segi hubungan dan emosi, saudarasekandung adalah orang yang paling dekat, dan sering melakukan kegiatan bersama serta yang paling mengetahui apa yang telah terjadi pada anak penyandang autis. Oleh karena itu saudara sekandung adalah orang yang paling tepat dalam membantu proses belajar.

Pengamatan ini dilakukan pada 2 anak laki-laki kami yang didiagnosa sebagai penyandang Sindrom Asperger dan 2 anak perempuan kembar kami yang normal selama 2,5 tahun. Sebagai orang tua kami berusaha memberikan pengertian dan penjelasan kepada 2 anak perempuan kami mengenai apa itu autis.

Untuk jangka panjang, saudara sekandung diharapkan dapat menggantikan fungsi orang tua yang tidak selamanya dapat mendampingi anak penyandang autis karena faktor usia.

Pendahuluan

Sebagai orang tua atau calon orang tua atau katakanlah manusia biasa, tentunya kita selalu berharap bahwa apabila suatu hari kelak tiba saatnya kita dianugerahi keturunan oleh Yang Maha Kuasa, kita ingin agar anak/keturunan kita adalah anak yang sehat jasmani dan rohani, sehat jiwa dan raga. Namun adakalanya keinginan atau harapan kita tidak sesuai dengan kehendak Yang Di Atas. Bagaimana kalau keadaan itu terjadi pada kita ?

Kehadiran anak penyandang autis dalam suatu keluarga sudah tentu akan mempengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga lainnya, terutama orang tua dan saudara sekandung. Orang tua dan saudara sekandung akan mempunyai hubungan yang relatif lebih lama dan lebih intensif dengan anak penyandang autis, dari mulai masa kecil, remaja, sampai dewasa. Tidak seperti hubungan interpersonal lainnya, hubungan ini melibatkan ikatan fisik dan emosional pada tahap-tahap kritis sepanjang kehidupan mereka.

Dibandingkan hubungan dengan orang tua, hubungan antar saudara sekandung akan bertahan lebih lama karena faktor usia. Karena itulah sebagian besar orang tua berharap saudara sekandunglah yang akan merawat dan menemani adik/kakaknya yang memiliki masalah setelah orang tua meninggal.

Anak yang memiliki saudara sekandung penyandang autis akan memiliki jenis hubungan yang berbeda dengan mereka yang sesama anak normal. Biasanya anak yang normal banyak mengalami stres dalam interaksi dengan anak autis tersebut. Namun demikian, tidak semua saudara sekandung anak autis akan mengalami stres yang berlarut-larut, tidak bahagia atau mengalami masalah yang berat.

Satu hal yang perlu diingat oleh kita sebagai orang tua adalah bahwa hubungan anak penyandang autis dengan saudara kandungnya adalah hubungan seperti layaknya hubungan saudara kandung anak-anak normal lainnya, di mana terdapat sisi yang positif dan di sisi lain ada hal yang negatif. Kadang kala penuh keakraban tetapi juga ada masanya hubungan itu memburuk. Hubungan tersebut akan terus berubah sesuai perkembangan usia dan kepribadian mereka.

Penerimaan Orang tua secara ikhlas terhadap anak penyandang autis

Pada saat kita menerima diagnosis dari dokter mengenai keadaan anak kita sebagai penyandang autis, reaksi kita pertama-tama pasti sedih, bingung, ada rasa tidak mau menerima kenyataan tersebut, dan yang terakhir tapi berbahaya adalah MALU. Pasti ada masa orang tua harus merenung dan tidak mengetahui tindakan tepat apa yang harus diperbuat. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih tidak terbuka mengenai keadaan anaknya kepada teman, tetangga, bahkan keluarga dekat sekalipun, kecuali kepada dokter yang menangani anaknya itu. Ada juga sebagian kecil orang tua yang kemudian menyalahkan Tuhan dan berpikir kenapa "nasib buruk" itu menimpa diri mereka.

Kejadian tersebut di atas adalah umum dan biasa dialami oleh para orang tua anak penyandang autis. Namun berdasarkan pengalaman saya sebagai pengelola Website Puterakembara dan moderator dari Milis Puterakembara, pada saat ini, sejalan dengan makin banyaknya informasi mengenai autisme, orang tua telah banyak menyadari bahwa tindakan menyesali dan menutupi keadaan anak autis adalah TIDAK TEPAT. Memberikan penanganan yang tepat dan terarah serta sedini mungkin pada anak penyandang autis berarti memberikan kesempatan yang semakin besar pada mereka untuk dapat hidup Mandiri menuju masa depan yang lebih cerah. Mereka, anak-anak penyandang autis, anak-anak kita semua, sangat BERHAK untuk juga mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masyarakat ini, di dunia ini.

Penerimaan dan keikhlasan kita sebagai orang tua benar-benar dituntut untuk mewujudkan "impian" dan "cita-cita" itu. Bagaimana kita akan dapat berbuat sesuatu dengan tepat kalau kita sendiri tertutup pada lingkungan dan malu mengakui bahwa anak kita ternyata memang berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Anak penyandang autis pun mempunyai perasaan dan emosi seperti anak normal. Mereka akan mengetahui apakah mereka disayang dan dimengerti atau tidak.

Sebelum mengharapkan pengertian dan penerimaan oleh saudara kandung, oleh masyarakat luas bahkan oleh pemerintah, terhadap anak-anak kita yang "spesial" ini, terlebih dahulu kita sebagai orang tua yang melahirkan mereka harus menerima dengan lapang dada, serta menyayanginya dengan sepenuh hati.

Manusia mempunyai rencana, begitu juga TUHAN, pasti mempunyai rencana akan semua ini.


Penjelasan mengenai AUTISME kepada saudara kandung

Sebenarnya, yang paling memiliki peranan dalam hal kualitas hubungan saudara sekandung dengan anak penyandang autis, adalah orang tua masing-masing. Sejak usia dini, orang tua harus benar-benar memberikan gambaran dan informasi yang benar serta apa adanya mengenai apa itu autisme kepada saudara kandung. Dengan begitu mereka (saudara kandung) dapat pula menerima dan mengerti saudara yang menyandang autis itu secara apa adanya. Faktor lain yang sangat penting adalah saudara sekandung anak autis tersebut memang memiliki resilience (ketabahan dalam menghadapi masalah dan tahan terhadap stres) sehingga tidak mengalami gangguan yang berat (Harris, 1994; Powers, 1989).

Sebelum kita berharap bahwa anak kita yang lain yang normal dapat mengerti dan menerima saudara kandungnya yang penyandang autis, perlu kiranya kita memberikan penjelasan dan keterangan mengenai apa itu autisme. Penjelasan dapat diberikan sedini mungkin, tentunya bahasanya dapat disesuaikan dengan usia saudara kandungnya itu. Bahasa yang digunakan sedapat mungkin dibuat sederhana. Pengalaman saya, penjelasan kepada saudara kandung penyandang autis dapat dilakukan selagi si saudara kandung masih berusia balita.

Dengan perkembangan usia, saudara kandung akan semakin mengerti mengenai apa itu autisme. Lebih jauh setelah mereka sendiri berinter-aksi, mereka dapat menangkap bahwa ternyata memang ada perbedaan antara mereka yang normal dengan saudara kandungnya yang penyandang autis. Dengan kesadaran si saudara kandung akan keberbedaan mereka, tugas orang tua selanjutnya adalah harus selalu berusaha tanpa henti untuk menumbuhkan rasa pengertian dan penerimaan secara ikhlas akan keberbedaan itu. Ini merupakan bagian yang tersulit.

Kalau kita sebagai orang tua sudah dapat berlaku bijaksana dan adil, serta selalu memberikan penjelasan pada anak-anak kita yang normal secara berulang-ulang sampai si anak benar-benar ingat dan mengerti, saudara sekandung dapat menjadi 'terapis' khusus yang manjur bagi anak autis.




Peranan Saudara Sekandung pada Anak Penyandang Autis

Berdasarkan pengalaman saya dan beberapa orang tua anak penyandang autis, telah terbukti bahwa ternyata cukup banyak saudara sekandung anak autis yang bisa mengerti dan bahkan cukup mampu menyesuaikan diri dengan keadaan adik atau kakaknya yang menyandang autis. Ada juga sebagian dari mereka yang mengalami banyak konflik misalnya memiliki rasa iri karena menganggap orangtua mereka lebih sayang pada anak autis, atau menyesali kenapa mereka mempunyai saudara kandung penyandang autis.

Pengalaman saya sendiri, ke dua anak laki-laki saya penyandang Asperger's syndrome sangat terbantu oleh saudara kandungnya yang normal (2 anak perempuan kembar), dalam hal bercanda, cara bersosialisasi, bermain seperti layaknya anak normal lainnya.

Kira-kira 4 tahun yang lalu, ketika anak kembar saya masih berusia 1 tahunan (belum bisa bermain dengan kakaknya), kedua kakak laki-lakinya penyandang asperger itu sama sekali tidak mau berteman, lebih suka sendiri, bermain computer, dan tidak suka dengan cerita anak-anak seperti dora emon, dan cerita-cerita kartun lainnya di Televisi. Kedua anak laki-laki saya lebih asyik dengan cerita "Animal planet", "National Geographic", " Animal hunter", "The Science Inventor", "The Planet", dan "Encyclopedia".

Hobby mengetahui hal-hal yang ilmiah sebenarnya tidak salah. Akan tetapi pada saat mereka harus berbicara dengan teman-teman sebayanya di Sekolah, akan terlihat ketimpangan di situ. Karena ke dua anak saya itu tidak bermasalah dalam kemampuan akademis, juga tidak hiper-aktif dan tidak menggangu maka mereka dapat masuk di Sekolah umum. Teman-temannya di kelas (Sekolah umum) merasa anak saya aneh, sehingga otomotis mereka pun tidak dapat bermain bersama-sama. Anak saya pun menganggap teman-temannya nakal dan tidak sejalan dengan pikirannya, maka anak saya lebih banyak sendiri di kelas.

Seperti kebanyakan anak perempuan, kedua anak kembar perempuan saya tumbuh menjadi anak yang cerewet, bawel, dan supel dalam bergaul. Saya mencoba untuk selalu melibatkan kedua anak perempuan saya dalam setiap kegiatan kedua anak laki-laki saya di rumah. Contohnya apabila mereka ingin mendapatkan sesuatu, mereka berempat harus antri. Contoh lain, pada saat tertentu (biasanya hari libur) mereka selalu berebut ingin dilayani oleh ibunya seperti memakai baju, mandi, dan masing-masing ingin yang nomor satu. Saya segera mensyaratkan mereka untuk "dam-suit" atau "hompipah" berempat. Dan mereka laksanakan itu dengan penuh semangat dan gembira.

Sekarang anak saya yang pertama laki-laki berumur 10,5 tahun, yang kedua laki-laki berumur 8 tahun, sedang yang ketiga kembar perempuan dan normal berumur 5 tahun 7 bulan.

Mereka sudah banyak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, mereka dan kedua saudara perempuannya sudah dapat bermain bersama seperti layaknya anak-anak normal lainnya. Mereka berdiskusi bersama, nonton cartoon di TV bersama. Pada saat nonton, mereka bisa tertawa bersama apabila ada yang lucu. Kedua anak perempuan kembar saya banyak mengajarkan mereka permainan yang layak dimainkan oleh anak-anak normal seusianya. Di Sekolah pun kedua anak laki-laki saya sudah mulai dapat bermain, walaupun hanya dengan 2 atau 3 teman saja. Tapi lumayan, itu sudah merupakan suatu kemajuan bagi saya. Sepulang Sekolah pun mereka sudah mulai dapat bercerita tentang apa yang terjadi di kelas.

Tak bosan-bosannya, saya selalu menjelaskan pada anak perempuan saya akan keberbedaan kakak-kakaknya. Sebaliknya, pada ke dua anak laki-laki saya penyandang asperger, saya selalu katakan bahwa mereka tidak boleh terlalu menuntut dapat dimengerti oleh kedua saudara perempuannya. Ada kalanya kedua anak perempuan saya juga marah, kesal dan tidak mau mengerti perlakuan dari ke dua kakak-kakaknya. Tapi itu saya nilai masih dalam tahap wajar.

Yang paling penting sebenarnya adalah saya ingin menekankan pada mereka bahwa mereka memang berbeda tapi mereka harus dapat menerima keberbedaan itu dengan pengertian. Mereka harus tahu dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sama dan sempurna di dunia ini. Hal itu yang ingin saya tanamkan pada mereka berempat.




Akibat yang mungkin timbul dalam melibatkan Saudara Sekandung pada masalah Anak Penyandang Autis

Setelah proses penjelasan dan memberi pengertian pada saudara sekandung dilaksanakan, secara umum ada beberapa kemungkinan masalah yang perlu dipikirkan berupa akibat yang mungkin akan timbul, terutama apabila mereka telah remaja atau menjelang dewasa.

Saudara kandung akan mulai berpikir dan menduga-duga tentang apa yang salah pada anak autis. Karena menyangkut keturunan, mungkin saja kemudian Ia dapat menjadi takut akan terkena autis, merasa bersalah atas keadaan saudaranya yang autis atau merasa bersalah karena perasaan benci yang dirasakannya. Sebagian anak menjadi terpaksa patuh pada orangtua sebagai kompensasi dari ketidakmampuan saudaranya yang autis. Ada juga yang memiliki perasaan ambivalen terhadap anak autis : sayang tetapi kesal dengan keadaan saudaranya, kasihan bila anak autis diejek teman-temannya tetapi malu dengan kondisi saudaranya itu. Sering pula muncul perasaan bahwa dunia tidak adil karena ia harus memiliki kakak atau adik yang autis.

Sebaliknya apabila pemahaman dan pengertian saudara kandung mengenai autis semakin baik, dia bahkan yang akan memberikan penjelasan yang cukup baik dan benar kepada teman-teman mengenai kondisi saudaranya itu.

Namun demikian, Jangan lupa bahwa masalah yang mungkin dialami oleh anak-anak normal dalam keluarga dapat juga dialami oleh anak-anak normal yang mempunyai saudara kandung penyandang autis. Mereka bisa saja merasa iri atas perlakuan khusus orangtua terhadap saudaranya yang autis. Akibatnya mungkin kadang-kadang mereka yang normal, sengaja berperilaku buruk untuk memperoleh perhatian orangtua. Kalau sudah begitu, lagi-lagi kita sebagai orang tua dituntut untuk bersikap adil. Jangan sampai waktu kita hanya tersita untuk anak kita yang menyandang autis.

Akibat yang paling parah adalah apabila kemudian si Saudara kandung merasa terbebani dengan tugas yang diberikan oleh orang tua untuk membantu dan menjaga saudaranya yang autis. Kemudian si saudara kandung mulai sering mencemaskan masa depan saudaranya yang autis dan perannya sebagai pengganti orangtua di masa depan.

Melihat begitu banyaknya akibat/masalah yang mungkin timbul akibat proses melibatkan saudara kandung dalam kehidupan anak penyandang autis, maka kita perlu juga memikirkan dengan semaksimal kemampuan kita sebagai orang tua untuk mendidik sejak dini dan membuat anak kita penyandang autis untuk dapat hidup Mandiri dan berguna minimal bagi dirinya sendiri.

Hal lain yang perlu dipikirkan juga adalah proses melibatkan saudara kandung, harus disesuaikan dengan umur dan pengertian dari si saudara kandung itu sendiri. Janganlah menuntut dan melibatkan terlalu banyak.

Mungkin saja akibat atau masalah negatif yang dikemukakan di atas itu tidak akan terjadi pada kita semua. Pada kenyataannya, sejauh pengamatan saya, peran saudara kandung dalam kehidupan normal pun selalu dapat di andalkan untuk membantu saudaranya yang lain yang sedang mendapatkan kesusahan.


Penutup
Semua orang tua yang mempunyai anak penyandang spektrum autisme tentunya merasakan kesulitan yang tidak terbayangkan sebelumnya dengan kehadiran anak tersebut. Sebagai orang tua, umumnya ingin selalu memberikan sesuatu yang terbaik bagi semua anak-anak kita baik anak yang autis maupun anak yang lain yang normal.

Masalah yang terbesar yang saya alami sebagai orang tua adalah Pembagian waktu. Pembagian waktu antara merawat anak autis dengan anak yang lain secara seimbang dan seadil-adilnya, waktu dengan pasangan, dengan pekerjaan saya sebagai Pimpinan Yayasan Puterakembara dan dengan urusan rumah tangga lain. Saya pribadi sangat membutuhkan bantuan dari banyak pihak dalam hal ini. Yang paling utama adalah dari pasangan kita, orang tua, dan saudara dekat kita. Dan kebetulan saya sangat beruntung mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang saya sebutkan itu. Kalau tidak saya tidak dapat membayangkan akan jadi apa saya sekarang.

Dukungan dari Yang Di Atas sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha Tahu tidak dapat diabaikan begitu saja. Dia lah yang memberikan kita kepercayaan untuk mendapatkan anak yang "spesial" ini. Oleh karena itu, bagaimana pun keadaan anak yang telah dipercayakan kepada kita itu, kita harus memelihara dan merawatnya dengan sebaik-baiknya.

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan yang ada sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap cobaan yang diberikan oleh Nya pasti mengandung hikmah.

Saya berharap sedikit uraian saya di atas mengenai "Peran Saudara Sekandung pada Anak Penyandang ASD", yang diambil berdasarkan dari pengalaman saya dan referensi dari beberapa tulisan para ahli, dapat membantu para orang tua lain dalam menghadapi anak-anak mereka.

No comments:

Post a Comment

Clixsense

Autism News

Loading...
Loading...

Popular Posts

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget